Wanita tidak akan jauh dari yang
namanya merias diri, menyukai hal-hal yang indah dan senang dipuji. Dalam islam
wanita sangat istimewa, dalam al-quran pun terdapat surat “An-nisa” yang
artinya perempuan/wanita. Wanita itu ahli surga, akan tetapi mengapa lebih
banyak wanita ?
Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :“Aku melihat ke dalam Surga maka aku
melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku
melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah
wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain
keduanya)
Masyaa allah, semangatlah kita
wahai muslimah agar bisa menjadi wanita ahli surga^^ dan semoga kita bisa
menjadi wanita shalihah yang dapat membuat bidadari cemburu kepada kita ^^ nah,
berikut sifat-sifat yang wajib kita punya.
1- Menutup
Aurat
Wanita terbaik itu menutup auratnya.
Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan, menurut
pendapat terkuat di antara pendapat para ulama.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ
لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ
جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ
غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada
isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:
“Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang
demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak
di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.
Al Ahzab: 59).
Jilbab bukanlah penutup wajah, namun
jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan
khimar adalah penutup kepala.
Allah Ta’ala juga
berfirman,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ
مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ
إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Katakanlah kepada wanita yang
beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah
mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”
(QS. An Nuur: 31).
2- Berbusana
dengan Memenuhi Syarat Pakaian yang Syar’i
Wanita yang menjadi idaman
sepatutnya memenuhi beberapa kriteria berbusana berikut ini yang kami sarikan
dari berbagai dalil Al Qur’an dan As Sunnah.
Syarat pertama: Menutupi seluruh
tubuh (termasuk kaki) kecuali wajah dan telapak tangan.
Syarat kedua: Bukan memakai pakaian
untuk berhias diri.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا
تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di
rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.”
(QS. Al Ahzab : 33).
Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj
adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah
menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan)
bagi kaum pria.”
Syarat ketiga: Longgar, tidak ketat
dan tidak tipis sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh.
Syarat keempat: Tidak diberi
wewangian atau parfum. Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ
فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
“Seorang perempuan yang
mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau
harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR.
An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no.
323 mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Syarat kelima: Tidak menyerupai
pakaian pria atau pakaian yang memperlihatkan aurat
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu
‘anhu berkata,
لَعَنَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه
وسلم – الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ
“Rasulullah melaknat kaum pria
yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.”
(HR. Bukhari no. 6834)
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ
مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai
suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”.(HR. Ahmad dan Abu Dawud.
Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)
Inilah di antara beberapa syarat
pakaian wanita yang harus dipenuhi. Inilah wanita yang pantas dijadikan
kriteria.
3- Betah
Tinggal di Rumah
Di antara yang diteladankan oleh
para wanita salaf yang shalihah adalah betah berada di rumah dan
bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak keluar rumah kecuali ada
kebutuhan yang mendesak. Hal ini dengan tujuan untuk menyelamatkan masyarakat
dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi laki-laki.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا
تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan tinggallah kalian di dalam
rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala
jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).
Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat
di atas mengatakan, “Hendaklah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan
janganlah kalian keluar rumah kecuali karena ada kebutuhan”.
Disebutkan bahwa ada orang yang
bertanya kepada Saudah -istri Rasulullah-, “Mengapa engkau tidak berhaji dan
berumrah sebagaimana yang dilakukan oleh saudari-saudarimu (yaitu para istri
Nabi yang lain, pent)?” Jawaban beliau, “Aku sudah pernah berhaji dan berumrah,
sedangkan Allah memerintahkan aku untuk tinggal di dalam rumah”. Perawi
mengatakan, “Demi Allah, beliau tidak pernah keluar dari pintu rumahnya kecuali
ketika jenazahnya dikeluarkan untuk dimakamkan”. Sungguh moga Allah ridha
kepadanya.
Ibnul ‘Arabi bercerita, “Aku sudah
pernah memasuki lebih dari seribu perkampungan namun aku tidak menjumpai
perempuan yang lebih terhormat dan terjaga melebihi perempuan di daerah
Napolis, Palestina, tempat Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api. Selama aku
tinggal di sana aku tidak pernah melihat perempuan di jalan saat siang hari
kecuali pada hari Jumat. Pada hari itu para perempuan pergi ke masjid untuk
ikut shalat Jumat sampai masjid penuh dengan para perempuan. Begitu shalat
Jumat berakhir mereka segera pulang ke rumah mereka masing-masing dan aku tidak
melihat satupun perempuan hingga hari Jumat berikutnya”.
Dari Abdullah, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ،
وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ:
مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا
كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا”
“Sesungguhnya perempuan itu
aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang
paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya”.
(HR Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini
shahih)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah mengatakan, “Tidak halal bagi seorang istri keluar dari rumah
kecuali dengan izin suaminya.” Beliau juga berkata, “Bila si istri keluar rumah
suami tanpa izinnya berarti ia telah berbuat nusyuz (pembangkangan), bermaksiat
kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta pantas mendapatkan siksa.” (Majmu’
Al-Fatawa, 32: 281)
4-
Memiliki Sifat Malu
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِى إِلاَّ
بِخَيْرٍ
“Rasa malu tidaklah mendatangkan
kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imron bin
Hushain.)
Kriteria ini juga semestinya ada
pada setiap wanita. Contohnya adalah ketika bergaul dengan pria. Wanita yang
baik seharusnya memiliki sifat malu yang sangat. Cobalah perhatikan contoh yang
bagus dari wanita di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ
وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ
امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى
يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23) فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ
تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ
خَيْرٍ فَقِيرٌ (24)
“Dan tatkala ia sampai di sumber
air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan
(ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita
yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan
berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan
(ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya),
sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. Maka Musa
memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (QS. Qashash: 23-24).
Lihatlah bagaimana bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka malu
berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. Namun coba
bayangkan dengan wanita di zaman sekarang ini!
Tidak cukup sampai di situ kebagusan
akhlaq kedua wanita tersebut. Lihatlah bagaimana sifat mereka tatkala datang
untuk memanggil Musa ‘alaihis salaam; Allah melanjutkan firman-Nya,
فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي
عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا
سَقَيْتَ لَنَا
“Kemudian datanglah kepada Musa
salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata,
‘Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap
(kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.‘” (QS. Al Qashash : 25)
Ayat yang mulia ini,menjelaskan
bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlaq dan bersifat malu. Allah menyifati
gadis wanita yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh dengan rasa malu
dan terhormat.
Amirul Mukminin Umar bin Khoththob
rodiyallohu ‘anhu mengatakan, “Gadis itu menemui Musa ‘alaihis salaam dengan
pakaian yang tertutup rapat, menutupi wajahnya.” Sanad riwayat ini shahih.
5- Taat
dan Menyenangkan Hati Suami
Istri yang taat pada suami, senang
dipandang dan tidak membangkang yang membuat suami benci, itulah sebaik-baik
wanita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ
إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا
وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Pernah ditanyakan kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau,
“Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika
diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat
suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
Begitu pula tempat seorang wanita di
surga ataukah di neraka dilihat dari sikapnya terhadap suaminya, apakah ia taat
ataukah durhaka.
Al Hushoin bin Mihshan menceritakan
bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena
satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,
أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ:
نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ
عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ
وَنَارُكِ
“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi
Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”,
tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak
pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di mana
keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan
nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata
Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)
6- Menjaga
Kehormatan, Anak dan Harta Suami
Allah Ta’ala berfirman,
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ
حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
“Sebab itu maka wanita yang
saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak
ada” (QS. An Nisa’: 34).
Ath Thobari mengatakan dalam kitab
tafsirnya (6: 692), “Wanita tersebut menjaga dirinya ketika tidak ada suaminya,
juga ia menjaga kemaluan dan harta suami. Di samping itu, ia wajib menjaga hak
Allah dan hak selain itu.”
7-
Bersyukur dengan Pemberian Suami
Seorang istri harus pandai-pandai
berterima kasih kepada suaminya atas semua yang telah diberikan suaminya
kepadanya. Bila tidak, si istri akan berhadapan dengan ancaman neraka Allah
Ta’ala.
Seselesainya dari shalat Kusuf
(shalat Gerhana), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan
surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat,
وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ
كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا:
لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟
قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَََحْسَنْتَ
إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ
مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Dan aku melihat neraka. Aku
belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat
ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa
para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab,
“Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para
wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka
kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat
baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia
melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan
berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR.
Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907). Lihatlah bagaimana kekufuran si wanita
cuma karena melihat kekurangan suami sekali saja, padahal banyak kebaikan
lainnya yang diberi. Hujan setahun seakan-akan terhapus dengan kemarau sehari.
8- Berdandan dan
Berhias Diri Hanya Spesial untuk Suami
Sebagian istri saat ini di hadapan
suami bergaya seperti tentara, berbau arang (alias: dapur) dan jarang mau
berhias diri. Namun ketika keluar rumah, ia keluar bagai bidadari. Ini sungguh
terbalik. Seharusnya di dalam rumah, ia berusaha menyenangkan suami.
Demikianlah yang dinamakan sebaik-baik wanita.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, dia berkata,
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ
إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا
وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu
yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah,
dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami
benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan
bahwa hadits ini hasan shahih)
Semangat meraih surga Allah^^
Thank you hihi
You can follow me :
@nafisahkha (instagram)
@nfskhairiyah (twitter)
Nafisatul khairiyah (facebok)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar